Syarat menjadi pelatih / fasilitator / trainer outbound sangat berbeda dengan pendidik pada umumnya. Pelatih diharuskan memiliki seperangkat pengetahuan dan pengalaman dasar. Hal ini dimungkinkan karena proses pelatihan relatif lebih singkat dari pendidikan, targetnya pun lebih berorientasi psikomotorik. Berikut ini pengetahuan dan pengalaman saya sebagai pelatih di Outbound Malang sejak tahun 90-an:

EU Malang, EU semarang, EU Yogyakarta, Outbound di Yogya, www.tips-indonesia.com, 085855494440.JPG

EU Malang, EU semarang, EU Yogyakarta, Outbound di Yogya, www.tips-indonesia.com, 085855494440.JPG

ANDRAGOGI (Konsep Teoritik)

Andragogi berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani, yakni Andra berarti orang dewasa dan agogos berarti memimpin. Maka andragogi kemudian dirumuskan sebagai “Suatu seni dan ilmu untuk membantu orang dewasa dalam belajar”.

Kata andragogi pertama kali digunakan oleh Alexander Kapp pada tahun 1883 untuk menjelaskan dan merumuskan konsep-konsep dasar teori pendidikan Plato. Meskipun demikian, Kapp tetap membedakan antara pengertian “Social-pedagogy” yang menyiratkan arti pendidikan orang dewasa, dengan andragogi. Dalam rumusan Kapp, “Social-pedagogy” lebih merupakan proses pendidikan pemulihan (remedial) bagi orang dewasa yang cacat. Adapun andragogi, justru lebih merupakan proses pendidikan bagi seluruh orang dewasa, cacat atau tidak cacat secara berkelanjutan. Untuk pemahaman lebih detail silahkan hubungi tim konsultan psikologi kami

Andragogi dan Pedagogi

Malcolm Knowles menyatakan bahwa apa yang kita ketahui tentang belajar selama ini adalah merupakan kesimpulan dari berbagai kajian terhadap perilaku kanak-kanak dan binatang percobaan tertentu.
Pada umumnya memang, apa yang kita ketahui kemudian tentang mengajar juga merupakan kesimpulan dari pengalaman mengajar terhadap anak-anak. Sebagian besar teori belajar-mengajar, didasarkan pada perumusan konsep pendidikan sebagai suatu proses pengalihan kebudayaan. Atas dasar teori-teori dan asumsi itulah kemudian tercetus istilah “pedagogi” yang akar-akarnya berasal dari bahasa Yunani, paid berarti kanak-kanak dan agogos berarti memimpin. Kemudian Pedagogi mengandung arti memimpin anak-anak atau diartikan secara khusus sebagai “suatu ilmu dan seni mengajar kanak-kanak”. Akhirnya pedagogi kemudian didefinisikan secara umum sebagai “ilmu dan seni mengajar”. Kami juga melayani outbound siswa, outbound anak, outbound mahasiswa dan outbound karyawan perusahaan serta outbound instansi pemerintahan

Untuk memahami perbedaan antara pengertian pedagogi dengan pengertian andragogi yang telah dikemukakan, harus dilihat terlebih dahulu empat perbedaan mendasar, yaitu :

1. Citra Diri

Citra diri seorang anak-anak adalah bahwa dirinya tergantung pada orang lain. Pada saat anak itu menjadi dewasa, ia menjadi kian sadar dan merasa bahwa ia dapat membuat keputusan untuk dirinya sendiri. Perubahan dari citra ketergantungan (dependent) kepada orang lain menjadi citra mandiri (independent). Hal ini disebut sebagai pencapaian tingkat kematangan psikologis atau tahap masa dewasa. Dengan demikian, orang yang telah mencapai masa dewasa akan berkecil hati apabila diperlakukan sebagai anak-anak. Dalam masa dewasa ini, seseorang telah memiliki kemauan untuk mengarahkan diri sendiri untuk belajar. Dorongan hati untuk belajar terus berkembang dan seringkali justru berkembang sedemikian kuat untuk terus melanjutkan proses belajarnya tanpa batas. Implikasi dari keadaan tersebut adalah dalam hal hubungan antara guru dan murid. Pada proses andragogi, hubungan itu bersifat timbal balik dan saling membantu. Pada proses pedagogi, hubungan itu lebih ditentukan oleh guru yang bersifat mengarahkan. Bagaimana mengajar yang efektif?

2. Pengalaman

Orang dewasa dalam hidupnya mempunyai banyak pengalaman yang sangat beraneka. Pada anak-anak, pengalaman itu justru hal yang baru sama sekali. Anak-anak memang mengalami banyak hal, namun belum berlangsung sedemikian sering. Dalam pendekatan proses andragogi, pengalaman orang dewasa justru dianggap sebagai sumber belajar yang sangat kaya. Dalam pendekatan proses pedagogi, pengalaman itu justru dialihkan dari pihak guru ke pihak murid. Sebagian besar proses belajar dalam pendekatan pedagogi, karena itu, dilaksanakan dengan cara-cara komunikasi satu arah, seperti ; ceramah, penguasaan kemampuan membaca dan sebagainya. Pada proses andragogi, cara-cara yang ditempuh lebih bersifat diskusi kelompok, simulasi, permainan peran dan lain-lain. Dalam proses seperti itu, maka semua pengalaman peserta didik dapat didayagunakan sebagai sumber belajar. Mau memiliki pengalaman menjadi tim trainer outbound di Malang?

3. Kesiapan Belajar

Perbedaan ketiga antara pedagogi dan andragogi adalah dalam hal pemilihan isi pelajaran. Dalam pendekatan pedagogi, gurulah yang memutuskan isi pelajaran dan bertanggung jawab terhadap proses pemilihannya, serta kapan waktu hal tersebut akan diajarkan. Dalam pendekatan andragogi, peserta didiklah yang memutuskan apa yang akan dipelajarinya berdasarkan kebutuhannya sendiri. Guru sebagai fasilitator. Mau memiliki kemampuan efective communication?

4. Waktu dan Arah Belajar

Pendidikan seringkali dipandang sebagai upaya mempersiapkan anak didik untuk masa depan. Dalam pendekatan andragogi, belajar dipandang sebagai suatu proses pemecahan masalah ketimbang sebagai proses pemberian mata pelajaran tertentu. Karena itu, andragogi merupakan suatu proses penemuan dan pemecahan masalah nyata pada masa kini. Arah pencapaiannya adalah penemuan suatu situasi yang lebih baik, suatu tujuan yang sengaja diciptakan, suatu pengalaman pribadi, suatu pengalaman kolektif atau suatu kemungkinan pengembangan berdasarkan kenyataan yang ada saat ini. Untuk menemukan “dimana kita sekarang” dan “kemana kita akan pergi”, itulah pusat kegiatan dalam proses andragogi. Maka belajar dalam pendekatan andragogi adalah berarti “memecahkan masalah hari ini”, sedangkan pada pendekatan pedagogi, belajar itu justru merupakan proses pengumpulan informasi yang sedang dipelajari yang akan digunakan suatu waktu kelak.

Langkah-langkah Pelaksanaan Andragogi:

Langkah-langkah kegiatan dan pengorganisasian program pendidikan yang menggunakan asas-asas pendekatan andragogi, selalu melibatkan tujuh proses sebagai berikut :

  • Menciptakan iklim/suasana yang kondusif untuk belajar
  • Menyusun suatu bentuk perencanaan kegiatan secara bersama dan saling membantu
  • Menilai atau mengidentifikasikan minat, kebutuhan dan nilai-nilai (TNA, hope, fear)
  • Merumuskan tujuan belajar
  • Merancang kegiatan belajar (tata tertib)
  • Melaksanakan kegiatan belajar
  • Mengevaluasi hasil belajar (menilai kembali pemenuhan minat, kebutuhan dan pencapaian nilai-nilai

Andragogi dapat disimpulkan sebagai :

Cara untuk belajar secara langsung dari pengalaman

Suatu proses pendidikan yang dapat mengurangi konflik-konflik sosial, melalui kegiatan-kegiatan antar pribadi dalam kelompok belajar.

Suatu proses belajar yang diarahkan oleh peserta sendiri, dimana kita secara terus menerus dapat mengevaluasi kembali kebutuhan belajar, yang muncul karena tuntutan situasi yang selalu berubah

Prinsip-prinsip Belajar untuk Orang Dewasa

  • Orang dewasa belajar dengan baik apabila dia secara penuh ambil bagian dalam kegiatan-kegiatan (partisipatif)
  • Orang dewasa belajar dengan baik apabila menyangkut mana yang menarik bagi dia dan ada kaitan dengan kehidupannya sehari-hari (aktual).
  • Orang dewasa belajar sebaik mungkin apabila apa yang ia pelajari bermanfaat dan praktis (useful dan aplikatif)
  • Dorongan semangat dan pengulangan yang terus menerus akan membantu seseorang belajar lebih baik (motivatif, inspiratif, repetitif)
  • Orang dewasa belajar sebaik mungkin apabila ia mempunyai kesempatan untuk memanfaatkan secara penuh pengetahuannya, kemampuannya dan keterampilannya dalam waktu yang cukup (tidak terburu-buru)
  • Proses belajar dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman lalu dan daya pikir dari mereka (experience)
  • Saling pengertian yang sesuai dengan ciri-ciri utama dari orang dewasa akan membantu pencapaian tujuan dalam belajar (emphati)

Karakteristik Orang Dewasa Dalam Belajar

  • Orang dewasa mempunyai pengalaman-pengalaman yang berbeda-beda
  • Orang dewasa yang miskin merasa bahwa dia tidak dapat menentukan kehidupannya sendiri (dependent).
  • Orang dewasa lebih suka menerima saran-saran dari pada digurui (independent)
  • Orang dewasa lebih memberi perhatian pada hal-hal yang menarik bagi dia dan menjadi kebutuhannya
  • Orang dewasa lebih suka dihargai dari pada diberi hukuman atau disalahkan
  • Orang dewasa yang pernah mengalami putus sekolah, mempunyai kecendrungan untuk menilai lebih rendah kemampuan belajarnya
  • Apa yang biasa dilakukan orang dewasa, menunjukkan tahap pemahaman dan pengalamannya
  • Orang dewasa secara sengaja mengulang hal yang sama
  • Orang dewasa suka diperlakukan dengan kesungguhan itikad yang baik, adil dan masuk akal
  • Orang dewasa sudah belajar sejak kecil tentang cara mengatur hidupnya. Oleh karena itu ia lebih suka melakukan sendiri sebanyak mungkin (praktek)
  • Orang dewasa menyenangi hal-hal yang praktis
  • Orang dewasa membutuhkan waktu lebih lama untuk dapat akrab dan menjalin hubungan dekat dengan teman baru

Karakteristik Pengajar Orang Dewasa

Seorang pengajar orang dewasa haruslah memenuhi persyaratan berikut:

  • Menjadi anggota dari kelompok yang diajar (membaur)
  • Mampu menciptakan iklim untuk belajar mengajar (hangat)
  • Mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi, rasa pengabdian dan idealisme untuk kerjanya (ikhlas)
  • Menirukan/mempelajari kemampuan orang lain
  • Menyadari kelemahannya, tingkat keterbukaannya, kekuatannya dan tahu bahwa di antara kekuatan yang dimiliki dapat menjadi kelemahan pada situasi tertentu.
  • Dapat melihat permasalahan dan menentukan pemecahannya
  • Peka dan mengerti perasaan orang lain, lewat pengamatan dll
  • Mengetahui bagaimana meyakinkan dan memperlakukan orang
  • Selalu optimis dan mempunyai itikad baik terhadap orang
  • Menyadari bahwa “perannya bukan mengajar, tetapi menciptakan iklim untuk belajar”
  • Menyadari bahwa segala sesuatu mempunyai segi negatif dan positif

Kami juga melayani:

1. Outbound di Malang

2. Training Motivasi,

3. Financial Planner

4. Dll

Untuk konsultasi Training Motivasi Di Malang, Outbound Malang, Wisata Malang, Travel di Malang dan Hotel di Malang Jatim yang sesuai dengan kebutuhan tim Anda, Silahkan menghubungi office kami untuk informasi lebih lanjut:

JAKARTA

Jl. Rawamangun Muka Raya No. 5 RT. 4 RW. 14 Rawamangun – Jakarta Timur 13220

Mobile: 085 311 091 054 / 081 334 664 876

SURABAYA

Jl. Purwodadi 2 No. 54B Surabaya

Mobile: 087 836 152 078 / 085 755 059 965

MALANG

Perum Taman Landungsari Indah N1 Malang

Mobile : 082 231 080 521 / 085 791 320 238

No. Telp : 0341 5032699

Pin BB : 5E0C2C45

Email :

indonesiasukses@yahoo.com

indonesia.tips@gmail.com

 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *