Sidik Jari merupakan struktur genetika dalam bentuk rangka yang sangat detail dan tanda yang melekat pada diri manusia yang tidak dapat dihapus atau diubah. Sidik Jari ibarat barcode diri manusia yang menandakan tidak ada pribadi yang sama.

Penenlitian sidik jari sudah dilakukan sejak masa lampau. Penelitian ini berkembang menjadi sebuah disiplin ilmu yang disebut dengan dermatoglyphics, yakni ilmu yang mempelajari pola guratankulit (sidik jari) pada telpak, tangan, dan kakai. Dermatoglyphics berasal dari kata “derm” berarti kulit, dan “glyph” berarti ukiran. Ketertarikan para ilmuwan melakukan penelitian terhadap sidik jari disebabkan pola sidik jari manusia memiliki keunikan karakterisitik sebagai berikut.

Pertama, sidik jari bersifat spesifik untuk setiap orang. Tidak ada pola sidik jari yang sama antara satu individu lainnya, bahkan pada anak kembar identik. Kemungkinan pola sidik jari sama adalah 1:64.000.000.000, jadi tentunya hampir mustahil ditemukan pola sidik jari sama antara dua orang. Pola sidik jari di setiap tangan seseorang juga akan berbeda dengan pola sidik jari di telunjuk jari tengah, jari manis, dan kelingking.

Kedua, sidik jari bersifat permanen, tidak pernah berubah sepanjang hayat. Sejak lahir, dewasa, hingga akhir hayat, pola sidik jari seseorang bersifat tetap. Hal ini berbeda dengan anggota tubuh lain yang senantiasa berubah. Sebagai contoh, bentuk wajah yang berubah seiring usia. Pola sidik jari tidak akan berubah walaupun seseorang dalam kondisi gemuk atau kurus, sehat atau sakit, dan dalam segala bentuk kondisi emosional apa pun.

Ketiga, pola sidik jari relatif mudah diklasifikasikan. Walaupun sidik jari bersifat spesifik, bentuknya tidak acak. Dalam sidik jari, ada pola-pola yang dapat  diklasifikasikan sehingga untuk berbagai keperluan, misalnya pengukuran, mudah dilakukan. Berdasarkan struktur sidik jari bersifat unik itulah sidik jari dapat diklasifikasikan.

Karakteristik dan keunikan yang ada di sidik jari memunculkan banyak pertayaan tentang fungsi dan maknanya. Salah satu fungsi yang bisa diaplikasikan dari kehadiran sidik jari adalah penggunaan alat forensik identifikasi, yaitu menentukan perbedaan identitas seseorang melalui pola sidik jari yang dimiliki oleh tiap individu. Namun, apakah sidik jari hanya berfungsi sebatas alat identifikasi?

penelitian riset ilmu dermatoglyphics banyak mengungkap kaitan pola sidik jari dengan interdisipliner berbagai bidang ilmu, khususnya antropologi, medis, dan psikologi.

Dr. Mary Lai, Ph.D., MME dari Taiwan-pendidikan yang menggunakan dan mengajarkan manfaat sidik jari dan penelitian dermatoglyphics dalam penempatan, konseling orangtua dan anak serta pengembangankurikulum individual-menjelaskan sebagai berikut.

 “The balance of the brain is the key element for learning instead of the quantity of the brain. Based upon Mr. Piaget’s study, when people have (overcome) emotional and learnign interferences, a new balance is created in the mind and this is an effective acknowledgment of development. In our Dermatoglyphics (skin pattern) assessment, we know when some parts of the brain are not balanced, (and can predict) the child will have responses such as fear, sadness, upset, withdrawing, and even give up to show the anxiety and pressure for surviving in the real world. If the child can find a new balance (to use) to adjust to the environment he or she will have (s) happy, enthusiastic, active, and patient attitude to fulfill some personal life purposes successfully.

Dermathoglyphics is like an instruction book showing how brains work. In the Dermathoglyphics assessment, there is no child who is not great. There is only the child who does not know how to use his or her talent and benefit themselves. However, mentors wrongly guide the child based on the most popular learning theoris, knowledge and experience at the time, instead of each child’s individual learning talent, preference and superiorities (or advantages). The wrong guidance makes mentors spend a lot of time forcing the child to fit into some specific learning style. Consequently, the deficient or wrong knowledge about the child leads to many learning obstacles, such as misbehavior, psychological interference and learning deficits and the frustrated child.

By using her Dermathoglyphics tools very early in the child’s life, even before the age of two, she is able to identify the problem areas that the child may experience in his or her development and design individual development and educational curriculum planning and prepare the mentors, teacher and family to more successfully facilitate each child’s success in life.

She resprenst the symposium entitled common language of education which will focus on the teaching methods of multiple intelligence development base on Dermathoglyphics Research. (90 minutes) and will be joined by 4 panelists to do presentation which focus on autism, Dermathoglyphics and special education application. (90 menit)

She will tell about her twenty yeaqrs of experience developing child curriculum based on studies of palm and sole Dermathoglyphics now with a data base supporting her work with close to 10.000 children. She or some other  members of her group may also demonstrate some recently developed practitioner aiding software.

Peneliti Taiwan tersebut menjelaskan bahwa disamping kuantitasny, keseimbangan otak merupakan elemen penting dalam belajar. Berdasarkan penelitian piaget, ketika orang mempunyai interferensi emosional dan pembelajaran, keseimbangan baru tercipta di otaknya dan ini merupakan pernyataan/ pengakuan perkembangan yang efektif. Dalam penilaian Dermathoglyphics (pola kulit), ia mendapatkan bahaw ketika beberapa bagian pada otak tidak seimbang, (dapat diprediksi) seorang anak akan mempunyai respons, seperti takut, sedih, murung, menarik diri/ menyendiri, bahkan menyerah (tidak mau) menunjukan kecemasan dan tekanan guna bertahan hidup di dalam dunia nyata. Jika anak tersebut dapat menemukan keseimbangan baru dalam penyesuian diri dengan lingkungannya, ia akan senang, antusias, aktif dan sabar guna m,eraih tujuan pribadi hidupnya dengan sukses.

Dermathoglyphics seperti sebuah buku instruksi alamiah yang menunjukkan bagaimana otak itu bekerja. Dalam penilaian Dermathoglyphics, tidak ada anak yang hasil skornya tidak besar. Yang ada hanyalah anak yang tidak tahu bagaiamana menggunakan bakat dan kebiasaan yang dia miliki, namun, mentor terkadang keliru dalam membimbing anak yang didasarkan pada teori pembelajaran yang popular, pengetahuan dan pengalaman saat itu, alih-alih pada bakat/ kemampuan belajar individual anak, preferensi (yang disukai anak), serta keunggulannya. Bimbingan yang keliru membuat para mentor memerlukan banyak waktu dalam mendorong anak untuk mengikuti cara belajar tertentu atau yang lebih spesifik. Konsekuensinya, kekurangan atau kekeliruan pengetahuan pada anak tersbeut membawa anak menemui berbagai hambatan/ kendala belajar, seperti salah dalam berperilaku, interferensi psikologis dan kurang mempunya motivasi belajar serta frustasi.

Dengan menggunakan alat Dermathoglyphics pada kehidupan anak sejak dini -bahkan sebelum usia dua tahun- peneliti ini mampu mengidentifikasi area permasalahan yang dialami anak dalam perkembangan individual dan perencanaan kurikulum pendidikan serta meyiapkan para mentor, guru dan keluarga untuk lebih memfasilitasi kesuksesan anak dalam hidupnya.

Untuk konsultasi Training Motivasi Di Malang, Outbound di Malang, Wisata Malang, Outbound di songa, Rafting di Songa Pasuruan, rafting di Kasembon, travel di Malang dan Hotel di Malang Jawa Timur yang sesuai dengan kebutuhan tim Anda, Silahkan menghubungi office kami untuk informasi lebih lanjut:

1. Jl. Raya Pluit Utara 2B-Muara Karang, Jakarta Utara

Mobile: 081 334 664 876

2. Jl. Ketintang 2/ 18D Surabaya

Mobile: 0878 599 338 62

3. Jl.Bhima Sakti 16 Malang

No. Telp.  : (0341) 582 032 / (0341) 5425754

Mobile: 0858 5549 4440

Pin BB: 22D90C87

Email dan YM:  tips_indonesia2020@yahoo.co.id

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

This Post Has 3 Comments

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *